Satuberita.my.id // Cilegon – Pengurus Besar Al-Khairiyah menggelar hajatan besar Muktamar ke-XI di Aula Al-Khairiyah, Citangkil, Kota Cilegon, Jumat, (16/10/2026). Acara yang berlangsung 16-18 Oktober 2026 ini mengangkat tema Meneguhkan Akidah, Mengembangkan Syariat, dan Membangun Peradaban. Ketua Panitia Pelaksana, Sayuti, memastikan acara pembukaan berlangsung kondusif. Ia mengakui ada penyesuaian rundown, termasuk agenda kehadiran Menteri Desa yang batal hadir di hari pertama karena harus menghadiri ratas di Istana Bogor. “Pembukaan alhamdulillah lancar. Pergeseran jadwal itu wajar dalam sebuah event besar,” ucap Sayuti. Sejumlah pejabat turut hadir dalam pembukaan, mulai dari utusan Mahkamah Agung, Kemendagri, Kemenag, Gubernur Banten, hingga Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cilegon serta unsur DPRD. Sayuti menjelaskan, muktamar diagendakan tiga hari, namun pelaksanaannya bersifat fleksibel tergantung keputusan forum sidang. Untuk pemilihan ketua umum, ia menyerahkan sepenuhnya kepada peserta. “Saya panitia, tidak punya hak pilih. Biarlah mutamirin yang menentukan siapa yang terbaik untuk memimpin ke depan,” katanya. Sementara itu, Ketua Umum PB Al-Khairiyah, Mumu Mujahidin, dalam sambutannya menyoroti fenomena baru yang mengancam akidah generasi. Menurut Mumu, tantangan dakwah saat ini bukan lagi sekedar perbedaan khilafiyah, melainkan perang pemikiran di media sosial. Banyak konten yang secara halus menggiring anak muda untuk mempertanyakan esensi ibadah hingga eksistensi Tuhan. “Inilah tantangan kita. Anak-anak kita setiap hari disuguhi konten yang bisa merusak akidah. Tugas Al-Khairiyah adalah membentengi mereka,” tegasnya. Ia meminta kader Al-Khairiyah justru melek digital dan menjadikan media sosial sebagai ladang dakwah, dengan bahasa yang mudah diterima generasi Z. Gerakan penguatan akidah ini, lanjut Mumu, harus dimulai dari lingkup paling kecil yakni diri sendiri dan keluarga, sebelum meluas ke masyarakat. Muktamar kali ini dihadiri ratusan utusan dari 12 provinsi. Tercatat peserta datang dari Banten, Jabar, Jateng, Sumsel, Lampung dan berbagai daerah lainnya. Saat disinggung soal peluang kembali memimpin, Mumu menyatakan lebih mengutamakan regenerasi dan keberlangsungan organisasi. Ia mengaku siap mengabdi di posisi manapun. “Muktamar ini harus melahirkan keputusan strategis, bukan hanya soal ketua umum, tapi bagaimana Al-Khairiyah tetap relevan dalam dunia pendidikan dan pembinaan akhlak di era teknologi ini,” pungkasnya. (Yurnita) Post Views: 25 Navigasi pos Kodam XXIX/Mambruk Resmi Berdiri di Nabire, Perkuat Pengabdian TNI AD di Papua Tengah Penuh Kepedulian, Satgas TMMD ke-130 Bangun Rumah Warga Kampung Yamboi